Lafazh-lafazh dalam bahasa Arab, berdasarkan hubungan antara lafazh dan maknanya, terbagi menjadi beberapa jenis:

1. الألفاظ المترادفة (alfazh mutaradifah). Lafazhnya berbeda, tetapi maknanya sama.

Contoh: جلس dan قعد , yang sama-sama bermakna duduk.

2. الألفاظ المتباينة (alfazh mutabayinah). Lafazhnya berbeda, dan maknanya berbeda.

Contoh: سماء (langit) dan أرض (bumi).

3. الألفاظ المتكافئة (alfazh mutakafi’ah). Lafazhnya berbeda, dan maknanya sama jika dilihat dari satu sudut pandang, tetapi berbeda jika dilihat dari sudut pandang yang lain.

Contoh: صارم، ومهند، وحسام, yang merupakan nama-nama pedang. Ketiga kata tersebut sama-sama bermakna pedang, tetapi ketiganya mengacu pada sifat-sifat pedang yang berbeda.

4. الألفاظ المتواطئة (alfazh mutawathi’ah). Lafazhnya sama, dan maknanya sama.

Contoh: رجل (orang). Misal, ketika seseorang berkata, “Ini adalah orang, dan itu juga adalah orang.” Keduanya sama-sama orang, tanpa ada perbedaan makna.

5. الألفاظ المشتركة (alfazh musytarakah). Lafazhnya sama, tetapi maknanya berbeda.

Contoh: عين , yang bermakna mata, sumber air, dll.

6. الألفاظ المشككة (alfazh musyakkikah). Lafazhnya sama, dan maknanya sama jika dilihat dari satu sudut pandang, tetapi berbeda jika dilihat dari sudut pandang yang lain.

Contoh: سواد (hitam). Dua benda yang berwarna hitam sama-sama disebut sebagai “benda yang berwarna hitam” walaupun kadar kehitamannya bisa jadi berbeda.

Contoh lainnya adalah kata kaki. Kaki manusia dan kaki monyet itu berbeda, walaupun sama-sama disebut sebagai kaki. Demikian pula, kaki manusia dan kaki kambing itu juga berbeda, walaupun lagi-lagi sama-sama disebut sebagai kaki. Jika kita melihat dari sudut pandang maknanya secara umum, maka kata kaki di sini memiliki makna yang sama, yaitu: kaki. Tetapi jika kita melihat dari sudut pandang hakikatnya secara realita, maka jelas sekali bahwa kaki manusia itu berbeda bentuk, tekstur, dan keutamaan jika dibandingkan dengan kaki monyet dan kambing. Oleh karena itu, mengatakan bahwa monyet dan kambing memiliki kaki dan bahwa kita juga memiliki kaki, tidaklah secara otomatis menunjukkan bahwa kaki kita sama dengan kaki monyet dan kambing.

Demikian pula dengan Sifat Allah dan sifat makhluk. Allah memiliki Tangan, dan makhluk juga memiliki tangan. Jika dilihat dari sudut pandang maknanya secara umum, maka kata tangan di sini memiliki makna yang sama, yaitu: tangan. Jika kita membaca ayat yang menegaskan bahwa Allah memiliki Tangan, seperti

بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.

“Di Tangan Engkaulah segala kebaikan. Sungguh Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (al-Qur’an, surat Ali `Imran, 26)

يَدُ اللَّـهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ.

“Tangan Allah di atas tangan mereka.” (al-Qur’an, surat al-Fath, 10)

maka kita langsung memahami bahwa kata Tangan yang disebut dalam ayat tersebut adalah bermakna tangan. Akan tetapi, jika kita melihat dari sudut pandang hakikatnya secara realita, maka jelas sekali bahwa Tangan Allah tentu pasti berbeda dengan tangan makhlukNya. Kita tahu betul bentuk tangan kita. Tetapi kita tidak tahu tentang bagaimana bentuk dari Tangan Allah, karena memang Allah tidak pernah menerangkan bentuk TanganNya kepada kita. Namun, Allah telah menetapkan bahwa tidak ada sesuatupun sama sekali yang semisal denganNya,

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ.

“Tidak ada sesuatupun yang semisal denganNya. Dan Dia adalah Dzat Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (al-Qur’an, surat asy-Syura, 11)

Oleh karena itu, mengatakan bahwa Allah memiliki Tangan tidaklah secara otomatis menunjukkan bahwa TanganNya sama dengan tangan kita.

Adapun kalangan Asy`ariyyah, mereka beranggapan bahwa jika kita menetapkan bahwa Allah memiliki Tangan, maka itu sama saja dengan menyamakan Allah dengan makhlukNya. Akhirnya mereka menyimpangkan makna Tangan Allah menjadi makna lain, yaitu pertolonganNya. Ini adalah penyimpangan makna ayat tanpa dalil, dan ini tidak sesuai dengan keyakinan para sahabat, tabi’in, dan tabi’it-tabi’in.

Keyakinan yang benar dalam masalah ini adalah kita harus tetapkan bahwa Allah memiliki Tangan (sebagaimana telah Allah firmankan dalam ayat 26 surat Ali `Imran dan ayat 10 surat al-Fath di atas), tetapi kita tidak tahu bagaimana hakikat Tangan Allah tersebut. Yang jelas, Tangan Allah tidak sama dengan tangan makhlukNya (sebagaimana telah Allah firmankan dalam ayat 11 surat asy-Syura di atas). Menanyakan tentang bagaimana bentuk Tangan Allah adalah bentuk perbuatan yang sia-sia karena kita tidak akan mengetahuinya kecuali melalui jalan wahyu, sementara Allah tidak pernah menjelaskannya dalam Qur’an ataupun melalui hadits Nabi shallallahu `alaihi wa sallam.

Menanyakan tentang bagaimana bentuk Tangan Allah itu juga adalah perbuatan bid`ah, karena seandainya ada kebaikan dalam perbuatan ini, maka tentu para sahabat, tabi’in, dan tabi’it-tabi’in telah mendahului kita dalam melakukannya. Dan terakhir, menetapkan bahwa Allah memiliki Tangan (dalam rangka mengamalkan ayat 26 surat Ali `Imran dan ayat 10 surat al-Fath di atas) tidaklah secara otomatis menunjukkan bahwa kita sedang menyamakan Allah dengan makhlukNya. Subhanahu wa Ta`ala `amma yashifun.

Andy Latief