Pertanyaan: Apa hukum shalat `id di belakang imam shalat yang bermadzhab berbeda?

Jawab:

Khilaf tentang jumlah takbir tambahan dan letaknya (apakah sebelum qira‘ah atau setelahnya) pada shalat `id adalah khilaf yang sangat masyhur di kalangan para ulama’. Bahkan, khilaf ini telah terjadi sejak jaman sahabat dan tabi’in. Jumlah takbir tambahan pada shalat `id adalah termasuk masalah fikih yang bersifat zhanniyyah, yaitu masalah fikih yang tidak bisa ditentukan secara mutlak dan pasti mana pendapat yang benar dan mana yang salah. Ia bukanlah masalah fikih yang bersifat qath`iyyah, yaitu masalah fikih yang bisa ditentukan secara mutlak dan pasti mana pendapat yang benar dan mana yang salah. Oleh karena itu, boleh bagi kita untuk shalat di belakang imam shalat tersebut.

Ibn Qudamah al-Maqdisi rahimahullah (w. 620 H) berkata,

فأما المخالفون في الفروع كأصحاب أبي حنيفة، ومالك، والشافعي، فالصلاة خلفهم صحيحة غير مكروهة. نص عليه أحمد، لأن الصحابة والتابعين ومن بعدهم لم يزل بعضهم يأتم ببعض مع اختلافهم في الفروع، فكان ذلك إجماعا. ولأن المخالف إما أن يكون مصيبا في اجتهاده فله أجران، أجر على اجتهاده وأجر لإصابته، أو مخطئا فله أجر على اجتهاده، ولا إثم عليه في الخطأ، لأنه محطوط عنه.

“Adapun orang-orang yang berbeda dengan kita dalam masalah furu`, seperti orang yang bermadzhab dengan madzhab Abu Hanifah, Malik, dan asy-Syafi`i, maka shalat di belakang mereka itu sah dan tidak makruh. Telah ada nash perkataan dari Imam Ahmad tentang hal tersebut, karena para sahabat dan tabi’in dan generasi setelahnya biasa untuk shalat di belakang orang yang berbeda dengan mereka dalam masalah furu`. Dengan demikian, ini adalah ijma`. Dan karena orang yang berbeda dengan kita tersebut bisa jadi benar dalam ijtihadnya sehingga dia mendapatkan dua pahala, yaitu pahala atas ijtihadnya dan pahala karena dia berhasil mendapatkan pendapat yang benar, atau bisa jadi dia salah dalam ijtihadnya sehingga dia mendapatkan satu pahala atas ijtihadnya tersebut. Selain itu, tidak ada dosa bagi orang yang salah dalam berijtihad tanpa ada kesengajaan, karena bebannya hilang dalam kondisi tersebut.” (al-Mughni, karya Ibn Qudamah al-Maqdisi, jilid 3, hlm. 23)

Hukumnya akan berbeda jika imam shalat dan ma’mum memiliki perbedaan pendapat dalam masalah fikih yang bersifat qath`iyyah, di mana perbedaan pendapat ini berujung pada perbedaan sah dan tidaknya shalat. Contoh, jika ada dua orang yang hendak melakukan shalat berjama’ah, di mana tiap-tiap orang ini berbeda pendapat tentang arah Ka`bah (dengan perbedaan arah yang lumayan besar), maka tidak boleh bagi setiap dari mereka untuk berma’mum di belakang yang lain.

Abul-`Abbas al-Qarrafi rahimahullah (w. 684 H) berkata,

المجتهدون في الكعبة إذا اختلفوا لا يجوز أن يقلد واحد منهم الآخر لأن كل واحد منهم يعتقد أنه ترك أمرا مجمعا عليه وهو الكعبة. وتارك المجمع عليه لا يقلد.

“Orang-orang yang berijtihad untuk mencari arah Ka`bah, jika mereka berbeda pendapat, maka tidak boleh bagi salah satu dari mereka untuk shalat di belakang yang lain, karena setiap orang dari mereka berkeyakinan bahwa orang lain telah melanggar perkara yang sudah ada ijma` di dalamnya yaitu Ka`bah (yakni, bahwa kita harus shalat menghadap ke arah Ka`bah -penj.). Dan orang yang melanggar hal yang sudah ada ijma` di dalamnya tidak boleh diikuti.” (al-Furuq, karya Abul-`Abbas al-Qarrafi, jilid 2, hlm. 101)

Adapun masalah jumlah takbir tambahan dan letaknya (apakah sebelum qira‘ah atau setelahnya), maka seperti yang kami sebutkan di atas, bukanlah masalah fikih yang bersifat qath`iyyah. Oleh karena itu, boleh bagi kita untuk shalat di belakang imam shalat yang berbeda madzhab tersebut.

Bahkan wajib bagi kita untuk bersatu dengan kaum muslimin yang lain, walaupun berbeda-beda negeri asal dan berbeda-beda madzhab, pada hari `id ini. Syari’at telah memerintahkan kita untuk menampakkan syi’ar persatuan saat hari `id, dengan cara shalat bersama-sama di satu tempat selama tidak ada kebutuhan untuk membuat tempat shalat baru. Ini karena maksud syari’at di balik pelaksanaan shalat `id di lapangan terbuka secara berjama’ah adalah agar kaum muslimin bisa bersatu dan agar mereka bisa shalat bersama-sama saudaranya yang lain walaupun berbeda negeri asalnya dan berbeda madzhabnya. Oleh karena itu, merupakan sesuatu yang bertentangan dengan maksud syari’at jika komunitas negara yang satu membuat shalat `id di antara mereka sendiri, kemudian komunitas negara yang lain juga membuat shalat `id di antara mereka sendiri, dan seterusnya. Wajib bagi kita kaum muslimin untuk shalat bersama di satu tempat, bertakbir bersama, meluruskan shaff yang sama, dan menampakkan syi’ar persatuan di antara kaum muslimin. Baru dibolehkan untuk mengadakan shalat `id di tempat lain jika ada kebutuhan untuk itu. Bahkan disebutkan dalam kitab Mughni al-Muhtaj karya al-Khathib asy-Syarbini rahimahullah (w. 977 H) dan Nihayatul-Muhtaj karya Syamsud-Din ar-Ramli rahimahullah (w. 1004 H) yang juga dikenal dengan sebutan asy-Syafi`i ash-Shaghir (asy-Syafi`i Kecil) bahwa hendaknya pemerintah (jika kita berada di negeri muslim) melarang berbilangnya tempat pelaksanaan shalat `id jika tanpa ada kebutuhan untuk itu. Ini semua demi mewujudkan maksud syari’at dalam shalat `id, yaitu tegaknya syi’ar persatuan di antara kaum muslimin pada hari `id.

Semoga Allah memberikan kita taufiq.

Andy Latief