Pertanyaan: Apakah produk makanan yang tidak memiliki label “suitable for vegetarian” itu halal untuk dikonsumsi?

Jawab:

Kita harus mengecek komposisi dari produk makanan ini. Jika terdapat bahan yang kita tahu bahwa itu adalah haram untuk dimakan, seperti babi atau rum, maka tidak boleh bagi kita untuk membeli dan mengkonsumsi produk tersebut. Namun, pada kebanyakan kasus, komposisi produk tersebut hanya menyebutkan simbol emulsifier seperti E471 atau hanya menuliskan bahwa terdapat fatty acids dalam produk tersebut. Dalam kasus ini, kita harus mengecek apa bahan dari simbol emulsifier tersebut; apakah dari bahan nabati atau non-nabati. Alhamdulillah telah banyak website yang mencantumkan bahan dari simbol-simbol emulsifier yang umum digunakan di berbagai produk makanan. Jika ia berasal dari bahan nabati atau non-nabati namun dari hewan yang halal seperti ikan dan sapi, maka alhamdulillah ini halal untuk dikonsumsi. Dan jika ia berasal dari hewan yang haram dimakan seperti babi, maka ini haram untuk dikonsumsi.

Namun, terdapat beberapa simbol emulsifier, terutama yang terbuat dari fatty acids, yang tidak disebutkan bahan asalnya pada website-website tersebut. Misalnya, pada tulisan beliau yang berjudul “Which E-numbers and additives are from animal origin?” Dr. Yunes Teinaz berkata, “Unfortunately it is not possible to distinguish animal and vegetable fatty acids in the final product. Only the producer can provide information on the origin.” Lalu, apa hukum dari produk makanan yang mengandung fatty acid (sebut saja fatty acid A untuk mudahnya) yang masih belum jelas seperti ini?

Dalam kasus ini, ada dua skenario yang bisa terjadi.

Pertama: Tidak ada kemungkinan yang mendominasi, apakah fatty acid tersebut berasal dari bahan yang halal atau haram. Misalnya, setelah kita berusaha mempelajari kebiasaan orang-orang dan industri di negeri tempat kita tinggal untuk mencari tahu apakah mereka menggunakan bahan halal atau haram untuk fatty acid A, lalu kita tidak bisa menyimpulkan kemungkinan yang dominan, maka ini adalah kondisi ragu-ragu. Dalam kondisi ini, hendaknya kita hindari produk makanan tersebut, dalam rangka mengamalkan sabda Nabi shallallahu `alaihi wa sallam,

دع ما يريبك إلى ما لا يريبك.

“Tinggalkanlah hal yang meragukanmu menuju hal yang tidak meragukanmu.” (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan an-Nasai.)

Dan juga sabda Nabi shallallahu `alaihi wa sallam,

إن الحلال بين وإن الحرام بين، وبينهما أمور مشتبهات، لا يعلمهن كثير من الناس. فمن اتقى الشبهات فقد استبرأ لدينه وعرضه.

“Sungguh yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Dan di antara keduanya terdapat hal-hal yang penuh keraguan, yang tidak diketahui oleh banyak orang. Barangsiapa yang menghindari hal-hal yang penuh keraguan, maka dia telah menjaga agamanya dan kehormatannya.” (Muttafaqun `alaih)

Kedua: Ada kemungkinan yang mendominasi, apakah fatty acid tersebut berasal dari bahan yang halal atau haram. Jika kita bisa menyimpulkan bahwa ada satu kemungkinan yang mendominasi setelah kita mempelajari kebiasaan orang-orang dan industri di negeri tempat kita tinggal, maka hukumnya adalah berdasarkan kemungkinan yang dominan tersebut. Jika kemungkinan yang dominan adalah bahwa fatty acid A itu berasal dari bahan halal (haram), maka produk tersebut halal (haram) untuk dimakan. Ini berdasarkan kaidah dalam ilmu fikih,

الحكم للغالب.

“Hukum sesuatu itu tergantung pada kondisi yang mendominasi.”

Di negeri tempat kami berada saat ini (Inggris), kemungkinan yang dominan untuk bahan asal dari fatty acid adalah bahan nabati, sebagaimana yang disebutkan oleh Dr. Yunes Teinaz dalam tulisan yang sama, “Chemically the fatty acids from animal or plant origin are identical. Therefore the origin is of no importance for the function in the food. Producers thus normally choose the cheapest oils to make these fats. This is generally some vegetable oil.”

Berdasarkan perkataan beliau ini, kami menyimpulkan bahwa jika terdapat produk makanan yang terbuat dari fatty acid yang masih belum jelas sumbernya, maka produk makanan tersebut halal untuk dimakan. Namun, penting untuk kami ingatkan bahwa hukum halal ini baru bisa disimpulkan setelah kita melakukan dua hal:

  1. Mencari tahu bahan asal dari seluruh emulsifier dan fatty acid yang tertera pada produk makanan tersebut.
  2. Mencari tahu apakah ada kemungkinan yang mendominasi untuk bahan asal dari fatty acid yang masih tidak jelas sumbernya walaupun kita telah melakukan point pertama. Kemungkinan yang dominan ini tergantung pada kebiasaan orang-orang dan industri di negeri tempat kita tinggal, sehingga beda negeri bisa jadi berbeda kemungkinan dominannya.

Bisa jadi ada yang bertanya, “Bukankah masih terdapat kemungkinan bahwa fatty acid A tersebut berasal dari bahan yang haram, seperti babi?”

Memang benar bahwa masih ada kemungkinan tersebut. Dr. Yunes Teinaz juga menyatakan hal yang sama dalam perkataan beliau, “However, animal fats cannot be excluded.” Yakni, masih ada kemungkinan bahwa fatty acid A tersebut berasal dari hewan, dan bisa jadi hewan tersebut adalah hewan yang haram untuk dimakan. Namun, kemungkinan seperti ini, selama ia bukan merupakan kemungkinan yang mendominasi, tidak bisa dijadikan sebagai sandaran untuk menetapkan hukum. Jika kita menjauhi sebuah produk makanan hanya karena terdapat kemungkinan kecil bahwa ia berasal dari bahan yang haram, maka ini akan mengantarkan kita pada perbuatan takalluf (menyusahkan diri sendiri) yang itu dilarang dalam syari’at. Kita tidak pernah menanyakan apakah sate kambing yang kita beli di warung di Indonesia itu telah dibacakan basmalah atau tidak saat proses penyembelihannya. Padahal, ada kemungkinan bahwa proses penyembelihannya tidak sesuai syari’at. Juga ada kemungkinan bahwa kambing tersebut disembelih oleh orang kafir selain ahlu kitab (Yahudi dan Nashrani), walaupun kita saat itu berada di Indonesia yang merupakan negeri muslim. Namun, ini semua kecil kemungkinannya untuk terjadi. Kemungkinan yang mendominasi untuk negeri kita Indonesia adalah semua daging ayam, kambing, dan sapi yang dijual di warung dan restoran itu disembelih oleh seorang muslim dengan cara penyembelihan yang benar sesuai syari’at, karena kaum muslimin di negeri kita alhamdulillah paham tata cara penyembelihan yang benar yang sesuai syari’at Islam. Oleh karena itu, tidak boleh bagi kita untuk menetapkan hukum kecuali berdasarkan kemungkinan yang mendominasi.

Semoga Allah memberikan kita taufiq.

Andy Latief