Read it in other language: English

Ketika kita dihadapkan pada perselisihan di antara para ulama’, maka langkah pertama yang harus kita lakukan, tentunya setelah berdoa kepada Allah untuk meminta petunjuk dan hidayah, adalah melihat mana pendapat yang paling kuat dalilnya. Kita harus mencari pendapat yang paling sesuai dengan al-Qur’an dan as-Sunnah, dan yang paling sesuai dengan pemahaman para generasi terdahulu dari kalangan sahabat, tabi’in, dan tabi’it-tabi’in.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّـهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَن يَعْصِ اللَّـهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُّبِينًا.

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (al-Qur’an, surat al-Ahzab, 36)

Oleh karena itu, jika kebenaran sudah tampak jelas dari dalil-dalilnya, tidaklah pantas bagi seorang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir untuk memilih-milih fatwa ulama’ sesuai dengan selera dan hawa nafsunya sebagaimana ketika dia memilih-milih makanan prasmanan.

Perbuatan seperti ini juga dikenal dengan nama “fatwa shopping”, yaitu ketika dia memilih fatwa tertentu karena fatwa itulah yang sesuai dengan seleranya saat itu. Kemudian di kesempatan lain dia memilih fatwa lainnya (pada permasalahan yang sama) hanya karena seleranya saat itu sudah berubah, bukan karena alasan dan landasan ilmiah.

Atau, ketika dia dinasihati oleh orang lain atas keyakinan atau amalannya yang tidak sesuai dengan dalil syari’at, kemudian dia serta-merta menuju google atau youtube hanya untuk mencari fatwa yang berseberangan. Siapapun ulama’ yang mengatakan fatwa yang berbeda tersebut, dia tidak peduli, karena prinsip yang dipegangnya adalah “yang penting berbeda dengan lawan diskusinya saat itu”.

Tidak diragukan lagi, hal ini adalah perbuatan yang sangat tercela. Bahkan para ulama’ telah memberikan peringatan keras bagi mereka yang selalu memilih fatwa yang “paling mudah” dan paling sesuai dengan selera dan hawa nafsunya.

Sebagaimana perkataan sebagian ulama’,

من تتبَّع الرخص فقد تزندق.

“Barangsiapa yang selalu mengikuti keringanan (dari setiap ulama’), maka dia telah menjadi zindiq.”

Imaam al-Auzaa’iy rahimahullah berkata,

من أخذ بقول المكيين في المتعة، والكوفيين في النبيذ، والمدنيين في الغناء، والشاميين في عصمة الخلفاء، فقد جمع الشر. وكذا من أخذ في البيوع الربوية بمن يتحيل عليها، وفي الطلاق ونكاح التحليل بمن توسع فيه، وشبه ذلك، فقد تعرض للانحلال، فنسأل الله العافية والتوفيق.

“Barangsiapa yang mengambil perkataan penduduk Makkah dalam masalah nikah mut’ah, dan penduduk Kufah dalam masalah nabiidz, dan penduduk Madinah dalam masalah nyanyian, dan penduduk Syam dalam masalah ma’shumnya khalifah, maka sungguh dia telah mengumpulkan semua kejelekan. Demikian pula yang mengambil pendapat orang yang memakai tipu daya dalam masalah transaksi riba, dan pendapat orang yang berlapang-lapang dalam masalah thalaq dan nikah tahliil, dan yang semisalnya, maka sungguh dia telah menyodorkan diri untuk lepas dari agama. Maka kami memohon keselamatan dan taufiq kepada Allah.” (Siyar A’laam an-Nubalaa’, karya Imaam adz-Dzahabiy rahimahullah, juz 8, hlm. 90)

Selain itu, tidak adanya konsistensi dalam beragama seperti ini, yang diakibatkan oleh mengedepankan selera dan hawa nafsu daripada mengedepankan argumentasi ilmiah, adalah karakteristik ahlul-bid’ah.

Syaikh Ahmad Muhammad as-Shaadiq an-Najjaar hafizhahullah berkata dalam kitab beliau Tabshiirul-Khalaf bi-Dhaabithil-Ushuul allatiy Man Khaalafahaa Kharaja ‘an Manhajis-Salaf (hlm. 19),

فمن خالف السلف في مصدر التلقي، لم يكن منهم ولا على هديهم، ويُعد من أهل الأهواء والبدع. وذلك أن أهل البدع يجعلون اعتمادهم في حقيقة الأمر على غير هذا الأصل، وإنما على عقولهم وآراءهم وأذواقهم، ثم بعد ذلك إذا رأوا دلالة الكتاب والسنة والإجماع توافق ما ذهبوا إليه استأنسوا بذلك، وإلا لم يبالوا بها.

“Barangsiapa yang menyelisihi salaf (para generasi terdahulu dari kalangan sahabat, tabi’in, dan tabi’it-tabi’in) dalam masalah mashdar talaqqiy (sumber agama, yaitu al-Qur’an, as-Sunnah, dan ijma’), maka dia bukanlah dari kalangan mereka dan juga tidak berjalan di atas jalan mereka. Dan dia teranggap sebagai ahlul-ahwaa’ dan ahlul-bida’.

Ini karena ahlul-bida’ itu dalam beragama tidaklah bersandar pada pondasi tersebut. Akan tetapi, mereka bersandar pada akal, perasaan, dan selera mereka. Kemudian setelah itu jika mereka melihat pendalilan dari al-Qur’an, as-Sunnah, dan ijma’ itu sesuai dengan selera dan hawa nafsu mereka, maka mereka akan mengambilnya. Jika tidak, maka mereka akan cuek bebek dengan dalil-dalil tersebut.”

Semoga kita terhindar dari perbuatan yang demikian.

Andy Latief