Pertanyaan: Jika kita hendak melakukan safar, bolehkah kita menjama` dan mengqashar shalat saat masih di rumah?

Jawab:

Salah satu syarat dari bolehnya jama` dan qashar shalat saat safar adalah ketika kita telah melewati batas area permukiman penduduk dari kota atau desa kita. Selama kita belum melampaui batas area permukiman penduduk, lebih-lebih lagi jika kita masih berada di rumah walaupun kita sudah berniat kuat dan bersiap untuk melakukan safar, maka masih belum boleh untuk melakukan jama` dan qashar shalat.

Ibn Qudamah al-Maqdisi rahimahullah (w. 620 H) berkata,

جملته أنه ليس لمن نوى السفر القصر حتى يخرج من بيوت قريته، ويجعلها وراء ظهره.

“Tidak boleh bagi orang yang berniat safar untuk melakukan qashar shalat hingga dia keluar dari batas area permukiman penduduk di desanya.” (al-Mughni, karya Ibn Qudamah al-Maqdisi, jilid 3, hlm. 111)

Abu Is-haq asy-Syirazi rahimahullah (w. 476 H) berkata,

ولا يجوز القصر إلا أن يفارق موضع الإقامة لقوله تعالى {وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ}، فعلق القصر على الضرب في الأرض، فإن كان من أهل بلد لم يقصر حتى يفارق بنيان البلد.

“Tidak boleh mengqashar shalat kecuali setelah ia melewati batas area permukiman penduduk, berdasarkan firman Allah, ‘Jika kalian bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa jika kalian mengqashar shalat.’ (al-Qur’an, surat an-Nisa‘, 101) Pada ayat ini Allah mengaitkan antara qashar dan bepergian di muka bumi. Oleh karena itu, jika seseorang itu termasuk penduduk kota tersebut, maka dia tidak boleh mengqashar shalat hingga dia melewati batas area permukiman penduduk di kota tersebut.” (al-Muhadzdzab fi Fiqhil-Imam asy-Syafi`i, karya Abu Is-haq asy-Syirazi, jilid 1, hlm. 337)

Ibn Qudamah al-Maqdisi rahimahullah (w. 620 H) berkata,

ولا يكون ضاربا في الأرض حتى يخرج.

“Tidaklah disebut bepergian di muka bumi kecuali jika dia telah keluar (dari batas area permukiman penduduk di kotanya -penj.).” (al-Mughni, karya Ibn Qudamah al-Maqdisi, jilid 3, hlm. 111)

Anas radhiyallahu `anhu (w. 93 H) berkata,

صليت مع النبي صلى الله عليه وسلم الظهر بالمدينة أربعا وبذي الحليفة ركعتين.

“Aku shalat zhuhur bersama Nabi shallallahu `alaihi wa sallam di Madinah sebanyak empat raka’at, kemudian di Dzul-Hulaifah sebanyak dua raka’at.” (Muttafaqun `alaih)

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi shallallahu `alaihi wa sallam tidak mengqashar shalat selama beliau masih berada di Madinah, walaupun telah berniat untuk pergi safar.

Oleh karena itu, penduduk College Park di Maryland US yang hendak melakukan safar boleh melakukan jama` dan qashar shalat di bandara internasional Washington Dulles, tetapi penduduk Yogyakarta yang hendak melakukan safar tidak boleh melakukan jama` dan qashar shalat di bandara internasional Adisutjipto Yogyakarta, karena bandara ini terletak di tengah-tengah area permukiman penduduk kota Yogyakarta.

Semoga Allah memberikan kita taufiq.

Andy Latief