Hari `id tidak akan lengkap jika tanpa diiringi dengan saling memberikan ucapan selamat `id dan untaian doa kepada keluarga, kerabat, teman, dan seluruh kaum muslimin yang kita jumpai pada hari yang agung tersebut. Di antara doa yang kerap kita ucapkan dan juga sering kita dapatkan dari orang lain adalah doa taqabbalallahu minna wa minkum,

تقبل الله منا ومنكم.

“Semoga Allah menerima (amalan) kami dan anda sekalian.”

Akan tetapi, banyak kita temui ketergelinciran ketika menulis doa ini, yaitu menuliskannya menjadi taqabballahu. InsyaAllah kita semua paham bahwa yang dimaksud adalah ucapan doa taqabbalallahu dan bahwa ini hanyalah ketergelinciran yang tidak disengaja.

Namun, pada artikel ini, kami ingin mengajak para pembaca sekalian yang semoga dirahmati oleh Allah untuk mengulas makna dari ucapan yang salah ini. Tujuan yang ingin kami capai dari artikel ini adalah bukan untuk mengkritisi sebuah ketergelinciran, karena insyaAllah kita semua paham bahwa orang yang mengucapkannya atau menuliskannya tidaklah bermaksud demikian. Akan tetapi, dengan artikel ini kami ingin menunjukkan bahwa betapa kayanya bahasa Arab itu, sehingga ketika sebuah kata diucapkan salah walau hanya sedikit, bisa jadi maknanya menjadi berubah drastis.

Ucapan taqabballahu jika ditulis dalam aksara Arab menjadi

تقبى الله.

Lalu, apa maknanya?

Kalimat ini mengandung satu kata kerja, yaitu taqabba, dan subjeknya, yaitu lafazh jalalah Allah. Sekarang, anggap kita ubah subjeknya menjadi Fulan. Maka, kalimat, “Taqabba Fulan,”

تقبى فلان

bermakna, “Fulan memakai qaba.” (Lihat Lisanul-`Arab, karya Ibn Manzhur rahimahullah (w. 711 H / 1311 M).) Dan qaba adalah

لباس يلبس فوق القميص.

“Sejenis pakaian yang dikenakan di atas qamish / pakaian utama (yakni, sebagai luaran -penj.).” (al-Mu`jam al-Wasith, karya Majma` al-Lughah al-`Arabiyyah bil-Qahirah)

Maka, jika kita ganti subjeknya menjadi lafazh jalalah Allah, tentu ini adalah makna yang bathil, tidak pantas untuk kita sematkan pada Allah Subhanahu wa Ta`ala. Jika kita tidak sengaja menulis doa taqabbalallahu dengan salah seperti ini, maka tidak ada dosa untuk kita insyaAllah.

Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk mulai semangat belajar bahasa Arab agar kita terhindar dari kesalahan semisal ini. Kita juga harus mulai semangat belajar tajwid agar kita juga tidak terjebak kesalahan yang tidak perlu saat membaca al-Qur’an. Banyak orang yang telah menghafal al-Qur’an dengan mutqin (yakni, hafal di luar kepala), namun karena tidak paham bahasa Arab, akhirnya ketika mereka kehabisan nafas di tengah ayat, mereka berhenti di tempat yang tidak tepat. Terkadang mereka berhenti di pertengahan frasa dalam sebuah ayat sehingga sangat mencederai makna ayat yang sedang dibaca, dan terkadang juga mereka justru berhenti di tengah-tengah kata! Misalnya, kata walakin akhirnya dibaca wala dan berhenti di situ karena dia kehabisan nafas dan karena dia ingin mencocokkan dengan irama bacaan yang dia miliki, kemudian bacaannya dilanjutkan kembali dengan mengucapkan walakin lalu lanjutan seterusnya dari ayat tersebut. Tidak diragukan lagi, ini adalah lahn jali (kesalahan fatal) dalam membaca ayat! Wajib bagi kita untuk tidak terjebak ke dalam kesalahan seperti ini saat membaca al-Qur’an, dan wajib bagi kita untuk mempelajari ilmu-ilmu yang terkait (yaitu, bahasa Arab dan tajwid) semampu kita agar kita bisa terhindar dari kesalahan semacam ini.

Jika kita sedang dalam proses belajar kemudian membuat kesalahan seperti ini, maka semoga kesalahan kita tersebut diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta`ala. Namun, jika kita tidak semangat untuk belajar bahasa Arab dan tajwid, padahal sebenarnya kita mampu (walau misalnya hanya dengan menyisihkan waktu satu jam per minggu), apalagi jika ada fasilitas di sekitar kita untuk belajar (seperti buku atau internet), dan lebih-lebih lagi jika ada guru di sekitar kita yang kita bisa belajar kepadanya, maka dikhawatirkan ketika kita membaca al-Qur’an dengan salah, kesalahan dan dosa kita tersebut tidak diampuni karena tidak ada `udzur.

Andy Latief