Syaikh Falah al-Mandakar hafizhahullah berkata:

[Awal kutipan]

Saudara, topik jihad dan khilafah adalah topik yang banyak orang membicarakannya, dan khilaf di dalamnya sangatlah besar. Orang-orang saling berdebat dengan hawa nafsu mereka, dengan ketamakan mereka, dengan mashlahat-mashlahat untuk mereka sendiri, dsb. Dan setiap orang berbicara dalam topik jihad dan khilafah berdasarkan dengan hawa nafsu atau dengan pemahaman yang telah dia miliki sejak dulu yang dia dibesarkan dengan pemahaman tersebut, bukan berdasarkan dengan pemahaman yang sesuai syari’at yang shahih. Akan tetapi, setiap orang mengklaim bahwa dialah orang yang memiliki pemahaman yang sesuai syari’at, bahwa dialah orang yang benar, dan bahwa dialah orang yang berada di jalan yang lurus. Namun, sebagaimana dikatakan dalam sya’ir Arab,

كل يدعي وصلا بليلى

          وليلى لا تقر لهم بذاك

“Semua orang mengaku punya hubungan dengan Laila,

          Tetapi Laila menolak semua pengakuan mereka.”

Mengapa kita kedepankan kata jihad sebelum kata khilafah? Jihad adalah sebuah kata yang diambil dari nash-nash syari’at. Setiap dari kita, sebagai seorang muslim, wajib untuk menjadi seorang mujahid dalam Islamnya, dalam imannya, dalam agamanya, dalam ilmunya, dalam akidahnya. Setiap orang dari anda sekalian wajib untuk berkata kepada dirinya sendiri bahwa dia adalah seorang mujahid. Makna kata jihad dan mujahadah itu sangat luas, mencakup semua aspek syari’at. Ia tidak selalu bermakna memikul pedang dan membawa senjata. Itu adalah bagian darinya, tetapi bukanlah makna seutuhnya. Telah mencukupi untuk kita dalam masalah ini firman Allah Tabaraka wa Ta`ala,

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا.

“Dan orang-orang yang berjihad (untuk mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (al-Qur’an, surat al-`Ankabut, 69)

Maka takwa butuh jihad, ilmu butuh jihad, sabar untuk melakukan keta’atan butuh jihad, sabar untuk meninggalkan maksiat butuh jihad, ibadah kepada Allah semuanya butuh jihad. Bab jihad itu banyak sekali. Setiap orang dari kita wajib untuk berjihad sampai memperoleh taufiq dari Allah Tabaraka wa Ta`ala, dan sampai Allah berikan dia hidayah kepada jalanNya Subhanahu wa Ta`ala. Ini adalah janji dari Allah. Anda berjihad di seluruh bab agama, maka Allah akan memberikan taufiq dan hidayah kepada anda menuju jalanNya Subhanahu wa Ta`ala.

Berbakti kepada kedua orang tua adalah jihad, berbuat baik kepada tetangga adalah jihad, mendidik anak adalah jihad, melaksanakan hak-hak istri kita adalah jihad. Semuanya adalah jihad, wahai `Abdullah. Dengarkanlah firman Allah `Azza wa Jalla“Demi waktu. Seluruh manusia berada dalam kerugian. Kecuali mereka yang beriman.” Iman maksudnya adalah ilmu, iman, akidah, dan tauhid. “Dan yang beramal shalih.” Berjihadlah dalam iman, berjihadlah dalam amal shalih. Berjihadlah dalam dakwah kepada agama Allah. Inilah jihad itu. Dan jihad paling agung untuk anda yang tinggal di negeri ini adalah dakwah kepada agama Allah dengan hikmah dan nasihat yang baik, dan debat dengan cara yang paling baik. Inilah jihad itu. Ini semua adalah jihad, wahai `Abdullah. Kemudian “saling menasihati untuk bersabar.” Yakni, berjihadlah untuk bersabar dalam ilmu, amal, dan dakwah. Semua ini adalah jihad di jalan Allah.

Jika anda telah berjihad dan anda memang sungguh-sungguh dalam jihad anda, maka Allah akan memudahkan anda untuk mendapatkan khilafah. Maka, khilafah adalah hasil, bukan tujuan utama. Saudaraku, para Nabi datang ke dunia dan meninggalkan dunia tanpa khilafah, padahal mereka berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benar jihad. Ini adalah akidah kita. Berapa banyak dari para Nabi yang memiliki khilafah dan kekuasaan? Berapa, wahai saudaraku? Dawud, Sulaiman, Nabi kita Muhammad shallallahu `alaihi wa sallam. Sedikit sekali dari para Nabi yang memilikinya. Maka, khilafah adalah hasil, janji dari Allah. Sementara anda hanya diwajibkan untuk berjihad. Jika datang khilafah, maka marhaban (selamat datang). Jika khilafah tidak kunjung datang, maka penuhilah kewajiban-kewajiban anda.

[Akhir kutipan]

Penerjemah: Andy Latief