Mengetahui metode riset yang ilmiah adalah modal dasar untuk bisa mencari tahu mana pendapat yang benar di antara sekian banyak perselisihan dalam masalah akidah. Masing-masing orang tentu akan membela pendapatnya, dan bisa jadi membuat banyak tulisan atau bahkan kitab untuk mendukung pemahamannya tersebut. Namun, agama kita adalah agama yang dibangun di atas metode riset yang ilmiah. Setiap orang bisa mengklaim apapun, namun semua klaim itu harus ditimbang dengan standar riset yang ilmiah dan baku; apakah klaim tersebut memang benar ataukah tidak. Namun, sayang sekali, banyak orang, walaupun mereka telah mencapai derajat keilmuwan yang tinggi (minimal menurut kelompoknya masing-masing), tidak tahu bagaimana metode riset yang ilmiah tersebut. Inilah penyebab utama dari masih merebaknya pemahaman menyimpang di tengah umat; ketika orang yang mereka tuakan dalam masalah ilmu itu tidak bisa membedakan mana batu yang kokoh untuk dijadikan pijakan dan mana yang ternyata adalah sarang laba-laba yang sama sekali tidak bisa dijadikan sandaran.

Syaikh Faishal ibn Qazar al-Jasim hafizhahullah (seorang ulama’ peneliti dari Kuwait) telah menjelaskan tentang metode riset yang ilmiah tersebut dalam muqaddimah kitab beliau, al-Asya`irah fi Mizani Ahlis-Sunnah (Asya`irah dalam Timbangan Ahlus-Sunnah). Berikut kami bawakan perkataan beliau hafizhahullah.

[Awal kutipan]

Dengan menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Dan shalawat serta salam kepada Rasul yang diutus sebagai rahmat kepada semesta alam, dan kepada keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti Sunnahnya dan menapaki jejaknya hingga hari kiamat.

Wa ba`du:

Aku telah membaca sebuah kitab yang berjudul Ahlus-Sunnah al-Asya`irah Syahadatu `Ulama‘il-Ummah wa Adillatuhum (Ahlus-Sunnah adalah al-Asya`irah, Kesaksian Para Ulama’ Umat dan Dalil-Dalil Mereka) yang ditulis oleh dua orang penulis. Ketika aku menelaah kitab ini, aku menemukan bahwa kedua penulisnya berusaha untuk menetapkan bahwa al-Asya`irah, yang menisbatkan diri mereka kepada Abul-Hasan al-Asy`ari, adalah ahlus-sunnah wal-jama`ah. Kedua penulis tersebut ngotot untuk menetapkan hal itu sampai-sampai mereka berdua keluar dari koridor riset ilmiah. Mereka berdua menetapkan sesuatunya tanpa dalil, dan mereka mengklaim sesuatunya tanpa bukti dan juga tanpa hujjah. Mereka berdua memenuhi kitabnya ini dengan kesaksian Asya`irah atas diri mereka sendiri bahwa mereka adalah orang-orang yang berada di atas kebenaran dalam masalah Nama dan Sifat Allah.

Dan kitab tersebut secara umum dipenuhi dengan kerancuan berpikir, hingga kitabnya itu lebih dekat kepada tulisan yang mengada-ada dibandingkan kepada tulisan yang bersifat ilmiah. Ini disebabkan oleh beberapa hal:

Pertama: Kedua penulis tersebut tidak menyebutkan dalil-dalil atas apa yang mereka klaim bahwa cara memahami Asya`irah terhadap Nama dan Sifat Allah itu adalah cara yang benar. Tidak ada dalil dari Qur’an, tidak pula dari Sunnah, dan tidak pula dari perkataan salaful-ummah (para generasi terdahulu dari umat ini -penj.). Akan tetapi kedua penulis tersebut memenuhi kitabnya dengan sekedar klaim yang tanpa bukti. Dan ini aneh karena mereka menyebutkan dalam judul kitabnya “dan Dalil-Dalil Mereka”. Maka, jadilah judul ini menjadi sekedar nama tanpa esensi sama sekali.

Kedua: Bahwa mereka berdua mengklaim berulang kali dalam kitabnya tersebut bahwa akidahnya Asya`irah itu selaras dengan akidahnya para salaf (generasi terdahulu) dan para imam dari kalangan sahabat, tabi’in, dan tabi’it-tabi’in. Akan tetapi, mereka berdua tidak berdalil dengan perkataan salah seorang pun dari para salaf tersebut sama sekali. Dan mereka berdua juga sama sekali tidak menukil dari kitab-kitab akidah para imam generasi terdahulu, seperti kitab Ushulus-Sunnah karya Imam Ahmad, kitab as-Sunnah karya anak beliau `Abdullah, kitab as-Sunnah karya al-Khallal, kitab as-Sunnah karya Ibn Abi `Ashim, kitab-kitab ad-Darimi seperti ar-Radd `alal-Jahmiyyah (Bantahan kepada al-Jahmiyyah) dan ar-Radd `alal-Marisi (Bantahan kepada al-Marisi), kitab Khalqu Af`alil-`Ibad (Perbuatan Makhluk itu adalah Makhluk) karya al-Bukhari, kitab at-Tauhid karya Ibn Khuzaimah, kitab at-Tauhid karya Ibn Mandah, kitab-kitab ath-Thabari seperti at-Tabshir dan Sharihus-Sunnah, kitab Syarhu Ushuli I`tiqadi Ahlis-Sunnah (Penjelasan Pokok-Pokok Akidah Ahlus-Sunnah) karya al-Lalikai, kitab al-Ibanah karya Ibn Baththah, dan kitab-kitab lainnya tentang Sunnah dan tentang bantahan kepada orang-orang yang menyelisihi Sunnah. Akan tetapi mereka berdua mencukupkan diri pada nukilan dari para imam Asya`irah yang mengklaim bahwa akidah merekalah yang merupakan akidahnya salaful-ummah. Tidak diragukan lagi, ini adalah sebuah kesalahan yang fatal dan kekurangan yang besar dalam menukil tentang akidah. Ini menunjukkan ketidaktahuan mereka berdua tentang perkataan para imam ahlus-sunah dan bahwa mereka tidak pernah menelaah tentang hal tersebut. Ini adalah sebuah kesalahan fatal yang membuat kitab mereka berdua kehilangan nilainya, dan membuat kitab mereka berdua tersebut turun dari derajat riset ilmiah menjadi derajat tulisan yang mengada-ada dan cuma sekedar klaim.

Benarlah perkataan Abu Nashr as-Sajzi ketika beliau berkata dalam sebuah risalah beliau kepada para penduduk kota Zabid,

“Semua orang yang mengklaim tentang Sunnah wajib untuk dimintai nukilan yang shahih (dari para generasi terdahulu -penj.) tentang apa yang dia katakan. Jika dia bisa mendatangkannya, maka barulah diketahui kebenaran perkataannya dan barulah bisa diterima perkataannya tersebut. Jika dia tidak bisa mendatangkan nukilan dari para salaf tentang apa yang dikatakannya tersebut, maka barulah diketahui bahwa dia termasuk orang yang mengada-ada dan menyimpang, dan bahwa perkataannya tersebut tidak bisa dijadikan sandaran. Dan orang-orang yang mendebati kami yaitu para mutakallimun (orang-orang ahli kalam), telah terkenal tentang mereka bahwa mereka itu menghindari nukilan dan juga menghindari pembahasan tentang nukilan (dari para generasi terdahulu -penj.) tersebut. Bahkan permusuhan mereka terhadap orang-orang yang ahli dalam masalah nukilan tersebut itu nyata, dan sikap menghindar mereka dari nukilan-nukilan tersebut itu jelas terlihat, dan kitab-kitab mereka itu tidak pernah menyebutkan sanad. Akan tetapi yang mereka katakan justru adalah, “al-Asy`ari berkata,” dan, “Ibn Kullab berkata,” dan, “al-Qalanisi berkata.” (Risalatus-Sajzi ila Ahli Zabid, hlm. 101)

Ketiga: Bahwa dalil maksimum yang mereka berdua bawakan untuk menetapkan bahwa Asya`irah itu adalah ahlus-sunnah wal-jama`ah adalah kesaksian orang-orang Asya`irah atas diri mereka sendiri. Tentu ini adalah sebuah guyonan belaka yang tidak ada esensi sama sekali di baliknya. Kondisi mereka berdua ini sama seperti kondisi orang-orang Syi`ah Rafidhah yang bersaksi bahwa Syi`ah Rafidhah adalah orang-orang yang berada di atas kebenaran dengan menggunakan kesaksian orang-orang Syi`ah Rafidhah sendiri.

Termasuk kaidah dalam riset ilmiah adalah bahwa untuk menetapkan benarnya sebuah pemikiran itu tidak bisa dengan menggunakan kesaksian dari orang-orang yang memiliki pemikiran tersebut. Akan tetapi, haruslah dengan menggunakan dalil, hujjah, dan bukti dari Qur’an, Sunnah, dan perkataan para salaf dan para imam ahlus-sunnah.

Benarlah perkataan Abu Nashr as-Sajzi ketika beliau berkata semisal hal ini,

“Telah menyampaikan kepadaku sekelompok orang dari Maroko bahwa Abu Muhammad ibn Abi Zaid dan Abul-Hasan al-Qabisi berkata, ‘Sungguh al-Asy`ari itu adalah imam.’ Jika benar nukilan ini dari mereka berdua, maka kondisi mereka berdua itu berkisar antara dua kemungkinan: Bahwa mereka berdua itu adalah pengikut pemikiran Asya`irah sendiri, sehingga perkataan mereka berdua tersebut tidaklah bisa dijadikan sebagai bukti tentang keimaman al-Asy`ari, walaupun mereka memiliki status yang tinggi, sebagaimana pula tidak bisa dijadikan patokan apa-apa yang dikatakan oleh Ibnul-Baqillani.” (Risalatus-Sajzi ila Ahli Zabid, hlm. 101)

Ibnul-Mibrad berkata dalam bantahannya atas pendalilan Ibn `Asakir dengan perkataan sebagian Asya`irah,

“Dan apa yang dia (Ibn `Asakir -penj.) katakan ini tidak bisa diterima, karena dia termasuk pengikut Asya`irah. Siapa lagi yang memuji pengantin wanita jika bukan ibunya atau saudara perempuannya?” (Jam`ul-Juyusy wad-Dasakir `ala Ibn `Asakir, hlm. 131)

Keempat: Bahwa mereka berdua menisbatkan kepada para imam ahlus-sunnah dengan perkataan-perkataan yang mereka berdua tidak pastikan keshahihan penisbatannya kepada para imam tersebut. Maka anda akan melihat bagaimana mereka berdua menukil dari beberapa sahabat dan tabi’in sementara mereka tidak perhatian pada sanad dari nukilan tersebut. Mereka berdua juga tidak menyebutkan sumber nukilan tersebut. Misalnya, mereka berdua menisbatkan sebuah perkataan kepada Ibn `Abbas radhiyallahu `anhu atau Mujahid, dan mereka berdua juga menukil dari al-Qurthubi atau selainnya, tanpa sanad dan tanpa pengecekan. Lalu mereka berdua menjadikan perkataan tersebut sebagai hujjah bagi mereka atas apa yang mereka berdua klaim, sementara mereka berdua tidak tahu tentang keshahihan dari nukilan tersebut. Tentu ini menunjukkan ketidaktahuan dan kurangnya ilmu mereka berdua.

Kelima: Bahwa setiap perkataan ulama’ yang mereka berdua agungkan, seperti al-Asy`ari dan selainnya, jika perkataan tersebut tidak mendukung pendapat mereka berdua, karena misalnya terdapat sesuatu dalam perkataan tersebut yang bisa membatalkan apa yang mereka berdua klaim, maka mereka berdua akan mengubur perkataan tersebut. Misalnya adalah ketika mereka berdua ngotot ketika mengingkari keshahihan penisbatan kitab al-Ibanah yang telah tercetak dan beredar secara luas itu kepada al-Asy`ari, dan mereka berdua mengklaim bahwa ada tangan-tangan yang telah mengubahnya.

Keenam: Bahwa mereka berdua menetapkan masalah-masalah yang berkaitan dengan lughah (bahasa) tanpa landasan dari ahli lughah dan juga tanpa merujuk pada kitab-kitab lughah. Akan tetapi, mereka berdua menetapkan masalah-masalah tersebut berdasarkan pada selera mereka berdua belaka. Misalnya adalah ketika mereka mengklaim bahwa makna dari sesuatu itu adalah kaifiyyahnya, dan bahwa bertanya tentang kaifiyyah itu adalah bertanya tentang maknanya, dan bahwa meniadakan kaifiyyah itu adalah meniadakan maknanya. Ini semua mereka lakukan dalam rangka kabur dari hujjah atas mereka (yakni, kabur dari hujjah yang membantah pemikiran mereka -penj.).

Ketujuh: Bahwa mereka berdua banyak membuat klaim-klaim tanpa bukti, khususnya tentang nukilan ijma` atas pemikiran yang mereka berdua usung. Misalnya, perkataan mereka berdua bahwa Malikiyyah, Syafi`iyyah, Hanafiyyah, dan Sam`aniyyah itu semuanya adalah Asya`irah atau Maturidiyyah. Mereka berdua juga banyak membuat klaim misalnya dengan perkataan, “Ini adalah madzhabnya para ulama’ seluruhnya!” padahal ijma`nya para salaf, yang bertentangan dengan apa yang mereka berdua klaim tersebut, itu lebih terang dan lebih jelas.

Syaikhul-Islam Ibn Taimiyyah berkata, “Ahli kalam dan ra’yi banyak memiliki klaim ijma` yang tidak shahih. Bahkan dalam masalah tersebut terkadang telah terdapat perbedaan pendapat yang telah ma`ruf, atau terkadang telah terdapat ijma` para salaf yang itu justru bertentangan dengan apa yang mereka klaim tersebut.” (an-Nubuwwat, hlm. 108)

Beliau juga berkata, “Kemudian, sebagian besar kitab ahli kalam dan para penukil tulisan itu menukil banyak perkataan dalam masalah pokok agama yang panjang jika mau dideskripsikan. Sementara hadits-hadits Nabi dan perkataan para sahabatnya dan para tabi’in dalam masalah pokok agama tersebut tidak mereka nukil. Bukan karena mereka sengaja tidak menukilnya, tetapi karena mereka tidak mengetahuinya, bahkan karena mereka tidak pernah mendengarnya sebelumnya, karena kurangnya ilmu mereka tentang nash-nash dari Nabi, para sahabat, dan para tabi’in.” (Minhajus-Sunnah, jilid 6, hlm. 303)

[Akhir kutipan]

Berdasarkan kutipan ini, bisa kita simpulkan bahwa di antara metode riset yang ilmiah dalam ilmu akidah adalah:

  1. Mencantumkan dalil dari al-Qur’an.
  2. Mencantumkan dalil dari as-Sunnah, yaitu hadits Nabi shallallahu `alaihi wa sallam, setelah sebelumnya mengecek keshahihan dari hadits tersebut dengan menggunakan kaidah-kaidah yang telah baku dalam ilmu hadits.
  3. Mencantumkan nukilan dari perkataan para salaf, yaitu kalangan sahabat, tabi’in, dan tabi’it-tabi’in, setelah sebelumnya mengecek keshahihan dari nukilan tersebut dengan menggunakan kaidah-kaidah yang telah baku dalam ilmu hadits.
  4. Tidak berhujjah dengan kesaksian para ulama’ kelompoknya sendiri atas benarnya pemahaman kelompoknya tersebut, karena hujjah itu adalah Qur’an, Sunnah, dan pemahaman para salaf.
  5. Mengecek keshahihan dari nukilan ijma` yang hendak dibawakan dengan menggunakan kaidah-kaidah yang telah baku dalam ilmu hadits.
  6. Memperbanyak telaah atas hadits-hadits Nabi shallallahu `alaihi wa sallam, perkataan para sahabat, tabi’in, dan tabi’it-tabi’in, agar kita yakin bahwa pemahaman kita itu memang memiliki landasan yang kuat.
  7. Tidak melandaskan pemahaman agama kita pada sekedar logika, selera, dan tendensi pribadi. Ciri dari beragama dengan hanya mengikuti selera dan tendensi pribadi itu adalah ketika kita berusaha kabur dari fakta dan kabur dari hujjah walaupun fakta dan hujjah tersebut telah tampak secara terang benderang. Kekalahan itu bukan ketika kita mengakui kesalahan pemahaman kita selama ini, tetapi kekalahan itu adalah ketika kita tidak mau menerima kebenaran padahal hujjah telah tampak jelas bagi kita.

Semoga Allah memberikan kita taufiq.

Andy Latief