وحدثنا ابن المبارك عن بكار بن عبد الله، قال: سمعت وهب بن منبه يقول: مر رجل عابد على رجل عابد، فقال: ما لك؟ قال: عجبت من فلان أنه كان قد بلغ من عبادته ومالت به الدنيا، فقال بعجل: لا تعجب ممن تميل به الدنيا، ولكن اعجب ممن استقام.

Telah mengabarkan kepada kami Ibnul-Mubarak dari Bakkar ibn `Abdillah, bahwa beliau berkata, “Aku mendengar Wahb ibn Munabbih berkata, ‘Seorang yang ta’at beribadah suatu hari bertemu dengan temannya yang juga ta’at beribadah, lalu ia berkata, ‘Apa berita yang kau punya?’ Maka temannya berkata, ‘Aku kagum dengan Fulan, dia berprestasi dalam masalah ibadah dan juga dalam masalah dunia.’ Maka dengan cepat ia menjawab, ‘Jangan kagum dengan orang yang berprestasi dalam masalah dunia, akan tetapi kagumlah dengan orang yang istiqamah dalam ibadah.”” (Hilyatul-Auliya, karya Abu Nu`aim al-Ashfahani, jilid 4, hlm. 51)

Contoh penerapan atsar ini adalah bahwa semangat kita untuk shalat berjama’ah lima waktu di masjid seharusnya lebih tinggi daripada semangat kita untuk menepati jadwal bertemu dosen pembimbing. Terutama shalat berjama’ah shubuh. Apalagi pada hari-hari setelah Ramadhan ini di mana banyak manusia melalaikannya setelah sebelumnya bersemangat menggapainya.

Andy Latief