Bisa jadi banyak dari kita yang mengalami kejadian seperti ini: Beberapa jam yang lalu kita ingat bahwa kita dalam keadaan hadats, tetapi saat ini kita ragu-ragu apakah kita sudah mengambil wudhu‘ atau belum. Atau sebaliknya: Beberapa jam yang lalu kita ingat bahwa kita telah mengambil wudhu‘, tetapi saat ini kita ragu-ragu apakah wudhu‘ tersebut masih sah atau sudah batal. Apa yang harus kita lakukan dalam kondisi seperti ini? Pada awalnya, mungkin kita berpikir bahwa sebaiknya kita “cari aman” dengan cara mengambil wudhu‘ kembali, agar kita yakin bahwa shalat kita nantinya dikerjakan dengan sah. Namun, bagaimana tuntunan Islam yang benar dalam masalah ini?

Di sini ada dua kasus:

  • Kasus 1: Yakin bahwa kita dalam keadaan hadats beberapa jam yang lalu, tetapi ragu-ragu apakah kita telah mengambil wudhu‘ setelahnya.
  • Kasus 2: Yakin bahwa kita telah mengambil wudhu‘ beberapa jam yang lalu, tetapi ragu-ragu apakah wudhu‘ tersebut batal setelahnya.

Pendapat terkuat dalam masalah ini

Dalam kasus 1, seluruh `ulama‘ mujtahid memiliki ijma` (kesepakatan) bahwa saat ini kita harus mengambil wudhu‘. Akan tetapi, dalam kasus 2, para `ulama‘ mujtahid berbeda pendapat.

Pendapat yang terkuat adalah bahwa saat ini kita tidak harus mengambil wudhu‘ kembali. Ini adalah pendapat Abu Hanifah, asy-Syafi`i, ats-Tsauri, al-Auza`i, dan jumhur fuqaharahimahumullah. Pendapat ini berlandaskan pada kaidah fikih,

اليقين لا يزول بالشك.

“Hal yang sifatnya yakin tidak bisa dihilangkan dengan hal yang sifatnya ragu-ragu.”

Kaidah ini adalah salah satu dari lima kaidah yang paling agung dalam ilmu fikih karena ia mencakup keseluruhan bab-bab fikih. Misalnya, ketika seseorang ragu-ragu apakah dia baru saja telah mengucapkan kata-kata talak kepada istrinya atau tidak, kita terapkan kaidah ini sehingga kita simpulkan bahwa istrinya belum tertalak. Ini karena keraguan tentang jatuhnya talak tidak bisa menghilangkan hal yang bersifat yakin, yaitu bahwa sebelumnya dia masih menjadi istrinya.

Contoh lainnya adalah ketika kita ragu-ragu apakah baju yang sedang kita kenakan ini terkena najis atau tidak. Dengan menerapkan kaidah di atas, kesampingkan keraguan kita tentang najisnya baju tersebut karena sebelumnya kita yakin bahwa baju kita suci.

Jika kita terapkan kaidah di atas pada permasalahan kita saat ini, maka bisa disimpulkan:

  • Kasus 1: Jika kita yakin bahwa kita dalam keadaan hadats beberapa jam yang lalu, tetapi ragu-ragu apakah kita telah mengambil wudhu‘ setelahnya, maka kita harus mengambil wudhu‘ kembali.
  • Kasus 2: Jika kita yakin bahwa kita telah mengambil wudhu‘ beberapa jam yang lalu, tetapi ragu-ragu apakah wudhu‘ tersebut batal setelahnya, maka kita tidak harus mengambil wudhu’ kembali.

Perbedaan pendapat di kalangan `ulama

Bisa jadi kita masih bertanya-tanya, “Bagaimana dengan pemahaman saya sebelumnya bahwa sebaiknya kita ‘cari aman’ saja? Yaitu, dalam kasus 2, jika kita yakin bahwa kita telah mengambil wudhu‘ beberapa jam yang lalu, tetapi ragu-ragu apakah wudhu‘ tersebut batal setelahnya, mengapa kita tidak ‘cari aman’ saja dengan cara mengambil wudhu‘ kembali? Bukankah ini lebih baik dalam rangka kehati-hatian? Mengapa jumhur `ulama‘ justru mengambil pendapat berdasarkan kaidah fikih di atas? Apa penjelasan jumhur `ulama‘ terhadap pemahaman saya yang berlandaskan pada ‘solusi aman’ ini?”

Sebenarnya ada `ulama‘ yang berpendapat sejalan dengan “solusi aman” di atas, yaitu Imam Malik rahimahullah. Beliau sepakat dengan `ulama‘ lain dalam kasus 1, tetapi beliau berbeda pendapat dalam kasus 2. Beliau berpendapat bahwa kita harus mengambil wudhu‘ kembali agar kita bisa secara yakin mengetahui bahwa shalat kita telah dikerjakan dengan sah.

Namun, yang menarik adalah bahwa beliau rahimahullah menggunakan kaidah fikih yang sama dengan yang dipakai oleh jumhur `ulama‘. Perbedaan pendapat timbul karena cara beliau menerapkan kaidah fikih tersebut berbeda. Jika jumhur berpendapat bahwa hal yang sifatnya yakin itu adalah wudhu‘, kemudian hal yang sifatnya ragu-ragu itu adalah batalnya wudhu‘, maka Imam Malik rahimahullah berpendapat bahwa hal yang sifatnya yakin itu adalah bahwa kita belum mengerjakan shalat, kemudian hal yang sifatnya ragu-ragu itu adalah apakah shalat kita telah dikerjakan dengan wudhu‘ yang sah. Karena perbedaan menentukan mana hal yang yakin dan mana hal yang ragu-ragu inilah, muncul perbedaan pendapat di kalangan para `ulama‘ mujtahid, walaupun mereka menggunakan kaidah fikih yang sama.

Lemahnya pendapat Imam Malik rahimahullah dalam masalah ini

Dalil yang membuat pendapat jumhur adalah pendapat yang lebih kuat dalam masalah ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh `Abdullah ibn Zaid bahwa beliau berkata,

شُكي إلى النبي صلى الله عليه وسلم الرجل يُخيَّل إليه وهو في الصلاة أنه يجد الشيء.

“Ditanyakan kepada Nabi shallallahu `alaihi wa sallam tentang seseorang yang merasa wudhu‘-nya batal saat sedang shalat.”

Kemudian Nabi shallallahu `alaihi wa sallam bersabda,

(لا ينصرف حتى يسمع صوتا أو يجد ريحا).

“Janganlah ia membatalkan shalatnya tersebut sampai ia mendengar suara atau mencium bau.” (Shahih al-Bukhari no. 137 dan Shahih Muslim no. 361)

Dalam hadits ini, Nabi shallallahu `alaihi wa sallam tidak memerintahkan orang tersebut untuk membatalkan shalatnya, padahal itu adalah “solusi aman” dalam masalah ini. Akan tetapi, Nabi shallallahu `alaihi wa sallam justru memerintahkan untuk terus melanjutkan shalat hingga ia yakin bahwa wudhu‘-nya telah batal. Oleh karena itu, dengan menghormati orang lain yang memilih pendapat berbeda dan juga tanpa mengurangi derajat keilmuwan dan keutamaan Imam Malik rahimahullah, pendapat jumhur dinilai sebagai pendapat yang lebih kuat dalam masalah ini.

Andy Latief