Syaikh Shalih `Abdul-Karim hafizhahullah berkata:

[Awal kutipan]

Aku ingin berbicara tentang sebuah topik yang sangat penting, yaitu tipu daya syaithan untuk menghalangi manusia untuk hadir di majelis ilmu secara langsung. Orang yang memperhatikan kondisi lapangan pada beberapa tahun belakangan ini akan menemukan bahwa para penuntut ilmu mulai enggan dan malas untuk hadir di majelis ilmu. Tidak diragukan lagi bahwa penghalang ilmu itu banyak sekali, dan hal yang menghalangi seseorang untuk hadir di majelis ilmu secara langsung itu juga banyak sekali. Akan tetapi, penting bagi kami untuk menjelaskan sebagian bentuk tipu daya yang dimasukkan oleh syaithan ke dalam hati manusia agar mereka menghindari majelis ilmu.

Tipu daya yang pertama dari syaithan untuk menghalangi manusia untuk hadir di majelis ilmu secara langsung adalah memasukkan ke dalam hati penuntut ilmu bahwa dia sudah terlalu tua dan bahwa dia sudah tidak pantas lagi untuk hadir secara rutin di majelis ilmu. Ini adalah cara yang dilakukan oleh syaithan kepada banyak orang. Mereka melihat bahwa yang duduk di majelis ilmu itu adalah para pemuda, sementara mereka merasa bahwa mereka sudah terlalu tua, sehingga ini menyebabkan enggannya mereka untuk duduk di majelis ilmu. Padahal jika kita lihat para sahabat Nabi shallallahu `alaihi wa sallam, kita akan melihat bahwa mereka radhiyallahu `anhum baru memulai belajar agama ketika mereka sudah tua. Kemudian lihatlah biografi para ulama’ yang memulai belajar agama pada waktu umurnya 30an tahun seperti Ibn Hazm atau 40an tahun seperti al-Kissai, dsb. Maka, ingatlah hal ini untuk menangkis syubhat yang dimiliki dalam benaknya tersebut.

Tipu daya yang kedua dari syaithan adalah memasukkan pada hati manusia perasaan bahwa dia tidak memahami kajian ilmu tersebut dan bahwa dia tidak mampu untuk memahami materi kajian tersebut. Bantahan untuk hal ini, yang penting untuk dipahami terlebih dahulu oleh kita, adalah bahwa hadir di majelis ilmu itu memiliki beberapa faidah. Faidah yang pertama adalah barakah majelis ilmu. Yang kedua adalah akhlak yang bisa dia pelajari dalam majelis ilmu. Yang ketiga adalah ilmu-ilmu yang bisa dia pelajari dalam majelis ilmu tersebut. Kemudian, yang penting untuk diketahui oleh kita adalah bahwa pemahaman itu berbeda-beda tingkatannya di antara manusia. Bisa jadi seseorang itu paham hanya 30%, sementara orang lain 70%, dan sementara orang yang lain lebih banyak lagi. Maka, manusia itu berbeda-beda tingkatannya. Jika seseorang selesai menghadiri majelis ilmu kecuali hanya dengan membawa satu faidah, demi Allah itu adalah kebaikan baginya. Karena dia belajar pada hari tersebut satu ilmu, dan keluar dari majelis ilmu dengan membawa satu faidah. Maka, hendaknya kita tutup syubhat yang berasal dari tipu daya syaithan ini.

Tipu daya yang ketiga dari syaithan adalah memasukkan pada hati manusia bahwa dia sudah merasa cukup dengan kitab-kitab, dan bahwa dia tidak merasa perlu lagi untuk hadir di majelis ilmu secara langsung. Dia berkata bahwa kitab-kitab sudah ada dan di dalamnya ada ilmu. Padahal ilmu itu secara asalnya ada pada dada-dada manusia, kemudian berpindah ke kitab-kitab. Dan seseorang tidak akan bisa sama sekali untuk mencukupkan diri pada kitab-kitab. Kitab-kitab itu adalah wasilah yang sifatnya membantu, tetapi belajar pada syaikh adalah yang utama. Maka syaikh itu adalah modal utama yang membantu kita untuk belajar dan memberikan kita kunci-kunci ilmu. Telah dikenal sejak dulu perkataan bahwa barangsiapa yang syaikhnya adalah kitabnya, maka kesalahannya lebih banyak daripada benarnya.

Tipu daya yang keempat dari syaithan adalah pemikiran bahwa kajian ilmu tersebut ada rekamannya. Ini adalah pemikiran yang banyak tersebar di jaman ini. Jika kita bertanya pada mereka apakah mereka mendengarkan rekaman tersebut setelah kajiannya selesai, maka jawabannya adalah tidak. Akan tetapi, syaithan memasukkan tipu daya ke dalam hati mereka untuk tidak hadir ke majelis ilmu tersebut dengan beranggapan bahwa rekaman kajiannya nanti bisa didengarkan. Maka syaithan menghalanginya untuk hadir dengan menggunakan cara ini.

Tipu daya yang kelima dari syaithan adalah pemahaman salah yang dimasukkan oleh syaithan pada sebagian hati para penuntut ilmu pemula, yaitu kurangnya pemahaman dalam beberapa masalah adab, yang berkaitan dengan tazkiyah, ashaghir, dan akabir. Ini adalah bencana yang tersebar di jaman ini. Karena sebab ini banyak penuntut ilmu yang enggan datang ke majelis ilmu dan mereka terhalang dari faidah ilmu yang besar.

Tipu daya yang keenam dari syaithan adalah menyibukkan manusia pada hal yang kurang bermanfaat dan menghalangi mereka dari hal yang lebih bermanfaat. Maka syaithan akan membisikkan pada manusia ketika kajian ilmu berlangsung agar dia menyibukkan diri dengan membaca al-Qur’an. Tidak diragukan lagi bahwa membaca al-Qur’an itu memiliki keutamaan, dan menghadiri kajian ilmu itu juga memiliki keutamaan. Akan tetapi, mana yang lebih besar keutamaannya? Orang yang memahami maksud syari’at dan belajar fikih akan mengetahui bahwa membaca al-Qur’an itu termasuk perkara muwassa` (perkara yang waktunya longgar), sementara kajian ilmu itu termasuk perkara mudhayyaq (perkara yang waktunya sempit). Dan jika perkara muwassa` terjadi bersamaan dengan perkara mudhayyaq, maka perkara mudhayyaq lebih didahulukan daripada perkara muwassa`. Karena kajian ilmu itu tidak akan berulang kembali setelah selesai, sementara membaca al-Qur’an bisa dilakukan pada waktu yang lain.

Tipu daya yang ketujuh dari syaithan adalah bisa jadi ada sikap keras yang terjadi di antara syaikh dan muridnya, atau di antara para murid. Maka syaithan datang kepada si murid dan menghalanginya untuk hadir di majelis ilmu karena masalah yang terjadi antara dia dengan syaikhnya atau dengan temannya sesama murid. Orang yang melihat pada biografi para salaf dan ulama’ akan mengetahui bahwa karakter dan sifat ulama’ itu berbeda-beda. Tentu seorang pengajar itu seharusnya bersikap lembut kepada para muridnya. Akan tetapi, sikap keras terkadang muncul di diri ulama’ terdahulu. Namun, tidaklah hal itu menjadi penghalang untuk belajar ilmu dari ulama’ tersebut.

Maka, hendaknya seseorang itu bersemangat untuk tidak dipengaruhi oleh tipu daya syaithan ini sehingga menghalanginya untuk hadir di majelis ilmu secara langsung.

[Akhir kutipan]

Penerjemah: Andy Latief